Dosen Seni IKJ Berkarya Dalam Beyond Classroom

beyond classroom

JAKARTA – Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Kesenian Jakarta (FSRD IKJ) kembali menggelar pameran seni tahunannya. Pihak penyelenggara meningkatkan tingkatan perhelatan yang telah berlangsung lama ini ke skala internasional guna merawat otonomi kreatif serta memperluas jejaring global. Pameran ini mengusung tajuk Urban Art Expression: Beyond Classroom. Penyelenggara resmi membuka acara ini di Galeri Cipta 1 dan 2, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada Selasa, 3 November 2026. Publik dapat mengunjungi pameran ini selama sepekan ke depan.

Ajang rutin ini telah berjalan sejak tahun 1997. Tahun ini, perhelatan tersebut menampilkan 41 karya terbaik dari 40 pengajar FSRD IKJ. Selain itu, acara ini juga melibatkan seniman tamu dari lima negara sahabat: Malaysia, Uruguay, Ukraina, Kolombia, dan Amerika Serikat.

Dekan FSRD IKJ, Adlien Fadlia, menyampaikan kata sambutan dalam pembukaan acara. Ia menegaskan bahwa tema tahun ini sangat lekat dengan visi utama institusi. Institusi ini tumbuh secara alami di tengah denyut nadi Kota Jakarta. Lebih lanjut, Adlien menjelaskan bahwa ruang urban bukan sekadar lanskap fisik yang padat. Sebaliknya, ruang perkotaan berfungsi sebagai medan sosial yang penuh dengan pergeseran nilai, tantangan, dan kompleksitas interaksi manusia.

Melalui beragam sudut pandang, material, media, dan teknik, 41 karya ini menghadirkan sikap kritis atas dinamika kehidupan kota. Selain itu, karya-karya ini menggugah para pengajar untuk meningkatkan mutu kelembagaan dan jejaring global. Mulai tahun 2026, FSRD IKJ memperluas jangkauan pameran ke tingkat internasional dengan mengundang seniman asing. Langkah internasionalisasi ini sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Kebijakan tersebut berfokus pada penguatan riset berbasis kekaryaan, inovasi berstandar global, serta pencapaian Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi.

Sementara itu, kurator pameran Citra Smara Dewi menyoroti aspek kebebasan artistik sebagai napas utama perhelatan ini. Ia menjelaskan bahwa pameran ini menawarkan alternatif yang segar di tengah pameran-pameran yang sangat seragam di Jakarta. Yang paling penting, para dosen menciptakan karya seni mereka tanpa beban pasar. Oleh karena itu, para seniman mengekspresikan perasaan personal dan perkotaan mereka tanpa mengkhawatirkan penjualan komersial. Alhasil, mereka meraih ekspresi kreatif yang total tanpa tekanan finansial.

Hal senada diungkapkan kurator sekaligus alumni FSRD IKJ, Anna Sungkar, yang mencatat bahwa proses seleksi karya berjalan jauh lebih ketat tahun ini. Panitia bertujuan menyaring karya terbaik (masterpiece) dari masing-masing pengajar. Setiap seniman memilih dan menampilkan karya terbaik versi mereka sendiri. Para kurator kemudian mengelola jalannya acara dan mengatur ruang pameran yang terbatas.

Pameran ini menghadirkan lima tema kreatif utama di sepanjang galeri. Pertama, beberapa seniman memfokuskan karya mereka pada realitas sosial, politik, dan kemanusiaan. Sebagai contoh, Dionisius Bowo Purnomo menampilkan Teman Perjalanan untuk mengamati dinamika sosial di dalam gerbong kereta komuter. Sementara itu, Dodi Triaviandi menyajikan Tujuh Dekade Jejak Penjaga Konstitusi & Keadilan, dan seniman Kolombia Santiago Escobar-Jaramillo menghadirkan refleksi kemanusiaan global.

Kedua, para seniman mengeksplorasi tradisi, ingatan budaya, dan identitas lokal. Muhamad Fahmi menampilkan kekayaan visual Nusantara melalui Spectrum of Batavia. Di sisi lain, Iwan Amir menyajikan Triswara yang memadukan motif Betawi dengan pengalaman hidupnya di Jakarta.

Ketiga, karya-karya lain mengangkat tema diri, ingatan, dan perjalanan batin. Nicholas Wila Adi memamerkan instalasi sepatu yang menceritakan kisah pemulihan dirinya dari sakit, sedangkan seniman Ukraina Vitalii Hrekh juga menjelajahi pengalaman personal serupa.

Keempat, para perupa membedah hubungan manusia dengan alam serta siklus keadilan. Hafizh Al Fikri menampilkan pahatan berjudul Aeolian Sculptures, dan Boedhatmaka Darsono menyajikan karya berjudul Resilience.

Akhirnya, tema kelima menghadirkan imajinasi, eksperimen visual, dan permainan medium. Anindyo Widito menampilkan desain interior bergaya Art Nouveau, sementara Arryadianta menyajikan eksperimen visual digital melalui karya bertajuk Glitch.

Melalui penyelenggaraan acara internasional ini, FSRD IKJ membuktikan bahwa institusi pendidikan seni tidak hanya mendidik mahasiswa di dalam ruang kelas konvensional. Sebaliknya, kampus hadir sebagai kantong kebudayaan yang hidup. Pada akhirnya, kampus aktif merawat nalar kritis, memperkuat dialog kebudayaan lintas bangsa, serta mempersembahkan karya seni berkualitas tinggi bagi apresiasi publik luas.

Foto Dok. Kompas.com

starmoments Previous post StartMoments Jakarta 2026: Pameran Seni Unik di Kantor
Tom Morello Next post Tom Morello: 4 Kegagalan Besar yang Membentuknya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights